Bimbingan Berhari Raya Idul Fithri

As Suyuthi Rohimahulloh berkata, ” Id merupakan kekhususan umat ini. Keberadaan dua hari Id merupakan rahmat Alloh kepada ummat ini.”

Dari Anas Rodhiyallohu anhu, ia berkata, ” Nabi datang ke Madinah dan penduduk madinah mempunyai dua hari raya. Pada masa jahiliyyah, mereka bermain pada dua hari raya tersebut. Beliau bersabda, ” Aku datang dan kalian mempunyai dua hari yang kalian bermain pada masa jahiliyah. Kemudian Alloh mengganti dengan yang lebih baik dari keduanya (yaitu) hari Nahr dan hari Fitri. ” (1).

Apa yang Disunahkan Pada Hari ‘Id?

1. Mandi

Pada hari tersebut kaum muslimin akan berkumpul, maka disunnahkan mandi seperti hari Jum’at. Namun apabila seseorang hanya berwudhu saja, maka sah baginya (Ibnu Qudamah, al Mughni, 3/257).

Said Ibnul Musayyib berkata, ” Sunnah pada hari ‘Idul fithri ada tiga, yaitu berjalan kaki menuju tanah lapang, makan sebelum keluar rumah dan mandi. ” (2)

2. Berhias sebelum berangkat shalat ‘Id

Imam Malik berkata , ” Saya mendengar ahlul ilmi mereka menggangap sunnah memakai minyak wangi dan berhias pada hari ‘Id. ” (3).

Ibnul Qoyyim berkata, ” Dahulu ketika keluar pada shalat dua hari raya, Nabi mengenakan pakaian yang terindah. Beliau memiliki hullah yang dikenakannya untuk dua hari raya dan hari jum’at. Suatu waktu, Beliau mengenakan dua pakaian hijau, dan terkadang mengenakan burdah (kain selimut warna merah). ” (4)

Sedangkan kaum wanita tidak dianjurkan berhias dengan mengenakan baju yang mewah, atau mengenakan minyak wangi. Hendaklah mereka menjauh dari kaum lelaki agar tidak menimbulkan fitnah.

3. Makan sebelum shalat ‘Idul Fithri

Dari Anas Radhiyallohu anhu, ia berkata :

Adalah Rasululloh Sholallohu ‘alaihi wa salam tidak keluar untuk shalat ‘Idul Fitri sehingga beliau makan beberapa kurma. ” (HR. Bukhori).

Ibnul Qoyyim berkata, ” Dahulu sebelum keluar untuk shalat ‘Idul fitri , Nabi makan beberapa kurma dengan jumlah ganjil. Dan pada hari ‘Idul Adha, Beliau tidak makan dari daging kurbannya. ” (5).

4. Mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari shalat ‘Id

Dari Jabir Radhiyallohu anhu, ia berkata : “ Adalah Nabi Sholallohu ‘alaihi wa salam ketika hari ‘Id, Beliau mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang. ” (HR. al-Bukhori di dalam Bab Al-‘Idain).

Ibnul Qoyyim berkata, ” Dahulu Nabi keluar dengan berjalan kaki, dan beliau menyelisihi jalan : yaitu berangkat lewat satu jalan dan kembali lewat jalan yang lain. ” (6)

5. Bertakbir

AllohSubhanahu wa ta’ala  berfirman :

“Dan supaya kalian sempurnakan hitungan Ramadhan dan bertakbirlah karena yang telah dikaruniakan Alloh kepada kalian, semoga kalian bersyukur . ” (QS. al-Baqoroh : 185).

Waktu bertakbir dimulai setelah terbitnya hilal bulan syawwal, hal ini jika memungkinkan. Jika tidak mungkin maka dengan datangnya berita atau ketika terbenamnya matahari pada tanggal 30 ramadhan. Kemudian takbir ini hingga imam selesai dari khutbah ‘Id. Demikian menurut pendapat yang benar, diantara pendapat ahlul ilmi. Akan tetapi kita tidak bertakbir ketika mendengarkan khutbah, kecuali jika mengikuti takbirnya imam. Dan ditekankan untuk bertakbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang atau ketika menunggu imam datang. ” (7)

Adapun sifat takbir, dalam hal ini terdapat keluasan. Telah datang satu riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud bahwa ia bertakbir pada hari tasriq dengan genap (dua kali) mengucapkan lafadz Allohu Akbar. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan sanadnya shahih. Akan tetapi disebutkan lafadz dengan tiga kali :

Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Laa Ilaha Illalloh, Allohu Akbar, Allohu Akbar walillahilhamdu.

Tidak selayaknya bertakbir dengan secara jama’i, yaitu berkumpul sekelompok orang untuk melafadzkan dengan satu suara, atau satu orang memberi komando kemudian diikuti sekelompok orang tersebut. Amalan seperti ini tidak pernah dinukil dari salaf. Yang sunnah, setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. Seperti ini pula pada setiap dzikir atau ketika memanjatkan doa-doa yang masyru’ pada setiap waktu. (8)

HUKUM SHALAT ‘ID

Hukum shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang untuk mengerjakannya. Dari Ummu Athiyyah, ia berkata :

Nabi memerintahkan kepada kami (kaum wanita) untuk keluar mengajak ‘awatiq (wanita berusia muda) dan gadis yang dipingit. Dan beliau memerintahkan wanita haid untuk menjauhi mushalla (tempat shalat) kaum muslimin . ” (Muttafaqun ‘alaih)

Pendapat yang mengatakan sahalat ‘id adalah fardhu ‘ain merupakan madzab Abu Hanifah dan saah satu riwayat dari Imam Ahmad. Begitu pua pebdapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dia mengatakan : “Oleh karena itu kami merajihkan hukum shalat ‘id adalah wajib ‘ain. Adapun pendapat yang mengatakan tidak wajib adalah perkataan yang sangat jauh dari kebenaran, karena shalat ‘id termasuk syiar islam yang terbesar. Kaum muslimin yang berkumpul pada hari ini, lebih banyak daripada hari Jum’at. Demikian pula disyari’atkan pada hari itu untuk bertakbir. Adapun pendapat yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah, tidak tepat.” (9)

Kapankah Waktu Shalat ‘Idul Fitri?

Waktu shalat ‘Id adaah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergeincirnya matahari. Yakni waktu Dhuha. Juga disunnahkan untuk mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri agar kaum muslimin memperoleh kesempatan menunaikan zakat fithri.

Ibnul Qoyyim berkata : “Dahuu, Nabi mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri dan menyegerakan shalat Idul Adha. Sedangkan Ibnu Umar, seorang sahabat yang sangat berpegang kepada sunnah, dia tidak keluar hingga terbit matahari. ” (10)

Tempat Mendirikan Shalat ‘Id

Disunnahkan mengerjakan shalat ‘Id di musholla. Yaitu tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali jika ada udzur. Misalnya seperti hujan, angin yang kencang dan yang lainnya, maka boleh dikerjakan di masjid.

Ibnu Qudamah berkata : “Mengerjakan shalat ‘Id di tanah lapang adalah sunnah, karena dahulu Nabi keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya. Demikian pula khulafaur Rasyidin. Dan ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Mereka telah sepakat di setiap zaman dan tempat untuk keluar ke tanah lapang ketika shalat ‘Id. (11)

Pada Saat ‘Id Tidak ada Adzan dan Iqamah

Dari Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallohu anhuma, keduanya berkata :

Tidak pernah adzan pada hari ‘Idu Fithri dan hari ‘Idul Adha. ” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dari Jabir bin Samurah, ia berkata :

Saya shalat bersama Rasululah Sholallohu ‘alaihi wa salam pada dua hari raya, sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa iqomat. “ (HR.Musilm)

Shifat Sholat ‘Id

Shalat ‘Id dikerjakan dua raka’at, bertakbir di dua rakaat tersebut 12 kal takbir, yaitu 7 pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum qiro’ah, dan 5 takbir pada rakaat kedua sebelum qiro’ah.

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, Sesungguhnya Rasulullah bertakbir pada dua shalat ‘Id tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada raka’at kedua.  (HR. Ibnu Majah)

Dari Aisyah, Sesungguhnya Rasulullah bertakbir pada shalat ‘Idul Fithri dan shalat “Idul Adha tujuh kai dan lima kali, selain dua takbir ruku’. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Lihat Irwa’ul Ghalil, 639).

Apabila Tertinggal dari Shalat ‘Id, Apakah Perlu Mengqadha?

Dalam masalah ini, Syaikh Ibnu Utsaimin, berkata : ” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat tidak diqodho. Orang yang tertinggal atau uput dari shalat ‘Id tidak disunnahkan mengqodhonya, karena hal ini tidak pernah ada dari Nabi. Dan karena shalat ‘Id merupakan shalat yang dikerjakan dengan berkumpul secara khusus. Oeh karena itu tidak disyari’atkan, kecuali dengan cara yang itu. ” (12)

Khutbah ‘Idul Fithri

Dalam shahihain dan yang lainnya disebutkan :

Adalah Nabi keluar ke tanah lapang pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Pertama kali yang beliau kerjakan ialah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap sahabat, dan mereka tetap duduk di barisan mereka. Kemudian Beliau memberikan mau’izhah, wasiat dan memerintahkan mereka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dalam masalah khutbah ‘Id, seseorang tidak wajib mendengarkannya. Dibolehkan meninggakan tanah lapang seusia shalat.

Di dalam hadits Abdullah bin As Sa’id, ia berkata : “Saya menyaksikan shalat ‘Id bersama Nabi. Ketika selesai beliau berkata ; ” Kami sekarang berkhutbah. Barang siapa yang mau mendengarkan, silahkan duduk. Dan barang siapa yang mau, silahkan pergi. ” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah ) (13)

Apabila ‘Id Bertepatan Hari Jum’at

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah, Beliau berkata : ” Telah berkumpu pada hari kalian ini dua ‘Id. Barang siapa yang mau, maka shalat ‘Id telah mencukupi dari Jum’at. Akan tetapi, kami mengerjakan shalat Jum’at. ” (HR. ABu Dawud, Ibnu Majah ).

Wallahu a’lam.

Catatan :

1. Dr. ABdullah ath-Thayyar, Ahkam al ‘Idain wa ‘Asyri Dzil-Hijjah, h 9.

2. Irwa’ul Ghali (2/104)

3. Al Mughni (3/258)

4. Zaadul Ma’ad (1/426)

5. Zaadul Ma’ad (1/426)

6. Zaadul Ma’ad (1/432)

7. Ahkamu ‘Idain, h 24

8. Ahkamul ‘Idain, h 30

9. Majmu’ Fatawa (23/161)

10. Zaadul Ma’ad (1/427)

11. Al Mughni (3/260)

12. ASy-Syarhul Mumti’ (5/208)

13. Lihat Irwa’u Ghalil (3/96)

Sumber : Majalah Fatawa, Untuk Ramadhan yang Lebih Baik, Edisi Khusus, Ramadhan-Syawwal 1430 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: