HS dan Masyarakat

Oleh Ummu Khoulah

Awalnya ketika menjejakkan kaki di bekasi tahun 2006 kami hanya HS tunggal, setahun kemudian teman-teman pd ingin ikutan. Lalu kami membuat seminar kecil-kecilan dengan pembicara bu Yayah Komariyah (komunitas HS Berkemas-pasar minggu) dan ana sendiri. Singkat kata, terbentuklah komunitas HS Almumtaz. Anggotanya kira-kira 10 keluarga. Pertemuan seminggu 2x digelar. Yang marhalah TK dan Playgroup sendiri dan yang marhalah SD terpisah sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak keluarga yang mengundurkan diri dari HS dan memilih menyekolahkan anak di TK maupun SD. Hingga kini hanya tersisa 4 keluarga HS aktif.

Yang lain sudah pada pamit tahun ajaran baru ini akan menyekolahkan anaknya ke pondok, SD atau TK. Banyak hal yang membuat mereka mundur dari HS. Ada yang karena ortu penuh pertengkaran hingga ana sarankan daripada anak jadi korban lebih baik anak dipondokkan. Ada yang tidak tahan mendengar rengekan anak minta sekolah seperti teman-teman sebayanya. Apalagi tiap hari melihat tetangga depan, kanan kiri pulang pergi pakai seragam sekolah. Ketika beberapa pada mundur, dua ummahat datang ke ana, gimana nih ummu khoulah… Ana katakan, terserah antum. Antum mundur atau tidak bagi ana sama saja, ana tetap jalan HS. Karena ana memang yang menggagas dan ana tidak kampanye, tetapi mereka yang ingin ikutan.

Kebanyakan faktor mundurnya keluarga HS dari HS dalam komunitas kami adalah faktor ortu. Bukan menakut-nakuti lho… Mereka merasa tidak mampu, tidak sanggup untuk marhalah anak di atas TK. Karena itu ana katakan buat aaba’ dan ummahat yang ingin berHS buat anak-anaknya, bila irama kehidupan rumah tangga Anda masih sering terjadi pertengkaran (suami istri) maka ini adalah keadaan yang tidak sehat buat anak HS. Bila ortu tidak mau belajar, berubah jadi yang lebih baik, menerapkan ilmu yang Anda miliki dalam rumah tangga dalam hal ini kepada anak-anak, bila Anda tidak siap menjadi figur teladan yang baik buat anak-anak anda, berarti Anda tidak cocok dengan program HS apapun.

Sebagai tambahan, ortu yang pandai Qur’an, bacaan, dll, punya nilai plus buat HS. Bila tidak maka program diniyah (tahfidz, tilawah, hadits, dll) bisa dikursuskan atau apalah namanya yang penting dihandle orang lain. Ibu imam, salah satu anggota HS kami juga kurang lancar dalam tilawah. Tapi kami usahakan untuk hal-hal yang sifatnya talaqqi dibantu orang yang kami tunjuk. Ummu Salma menyimak hafalan Quran Salma yang sekarang kelas 5 dan sudah 17 juz hafalannya, tapi jangan sangka beliau sendiri juga hafal Qur’an. Beliau hanya bagus bacaannya dan mengerti ilmu baca Qur’an.

Alhamdulillah Allah pertemukan kami dengan orang-orang seperti mereka. Anak-anak kami bisa bersahabat dengan anak-anak mereka, bermain dan berkarya bersama. Minggu-minggu ini kami telah menyelesaikan ujian semester 2 untuk materi diniyah dan umum. Asalnya dilakukan di rumah masing-masing karena rumah kami berjauhan. Tapi kemudian mereka sendiri yang minta dilaksanakan di rumah ana. Jadilah ujian dalam satu ruang dengan masing-masing menghadap satu meja.

Saya ingin bertanya kepada anda semua, apa itu sosialisasi? Apakah dengan dalih sosialisasi lalu anak harus nyebur ke teman-teman sebaya, banyak teman dll? Saya lebih cenderung kalau sosialisasi dimaknakan anak bisa menempatkan diri/memposisikan diri di manapun ia berada. Dan ini tidak bisa jadi kecuali dengan adanya pembentukan orang-orang tua melalui nasehat, pengajaran, pendidikan dan lebih-lebih contoh tauladan ortu kepada anak-anaknya. Anak-anak yang cukup kasih sayang dan perhatian ortu, yang dibiasakan dengan rambu dan adab islami disertai gemar amar makruf nahi munkar, ia tidak akan minder dan akan pede di manapun ia berada dengan izin Allah ta’ala. Apalagi bila punya satu atau lebih kelebihan yang menonjol diantara teman-temannya. Begitu pula bagi anak, shohibul kalam (atau istilahnya apa ya… mungkin orang utama yang didengar kata-katanya) dalam keluarga haruslah umi dan abi, walaupun di rumah ada nenek, paman dll, tapi kita buat aturan main bahwa abi dan ummi adalah orang tua mereka yang paling berhak terhadap mereka.

Berapa banyak anak yang dalam lingkup teman-teman yang sepermainannya, hanya menjadi pengekor teman-temannya, dipalak, diplonco, mau aja. Ada anak berbuat kejelekan, ia ikut-ikutan karena kalau tidak ia akan dikucilkan. Atau anak yang pakai hukum rimba, yang kuat itulah yang menang. Atau anak yang buat geng, kalau enggak ikut dianggap anak bawang. Model anak-anak yang gini bukanlah anak yang pandai bersosialisasi. Tapi ada juga anak yang disegani kawan-kawannya, anak yang suka dijadikan teman diskusi kawan-kawannya, suka didaulat jadi pemimpin mereka, diambil pendapatnya walaupun kadang menggelikan kalau kita pandang dari kacamata kita orang dewasa, mereka ini bisa saja keluar dari anak-anak HS islami salafy.

Kemudian yang kedua, senjata kita adalah doa. Kita berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan dilapangkan jalan bagi kita dan mendidik anak-anak kita. Wabillahit tawfiq.

Sumber : http://sunnihomeschooling.co.cc/?p=141

0 Responses to “HS dan Masyarakat”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: